Penyerapan Vitamin C

Jika masih menyangka setiap jenis vitamin yang ada di toko memiliki kecepatan yang sama untuk diserap tubuh, maka Anda salah. Mudah tidaknya penyerapan vitamin C tergantung dari jenisnya. Vitamin C jenis apa yang paling mudah diserap tubuh?

Artikel ini dipersembahkan oleh Holisticare Ester C. Untuk bantu menjaga daya tahan tubuh agar selalu kuat menghadapi infeksi virus dan bakteri, konsumsilah suplemen Vitamin C setiap hari. Pilihlah suplemen Vitamin C jenis Ester C, seperti Holisticare Ester C. Sebab Holisticare Ester C lebih tidak perih di lambung dan mampu bertahan 24 jam di dalam tubuh.

Ada anggapan, jika kita mengonsumsi sejumlah dosis vitamin C, sejumlah itu pula manfaat vitamin C bisa kita dapat. Dengan kata lain, jika kita minum 200 mg vitamin C, maka tubuh akan memperoleh manfaat 200 mg vitamin C pula. Kemudian jika vitamin C yang kita minum ditambah hingga 1000 mg, maka tubuh pun akan memperoleh manfaat sebesar 1000 mg pula. Jika kamu menganggap demikian, maka buang jauh-jauh anggapan ini Sahabat Holisticare!

Proses Penyerapan Vitamin C

Perlu kita ketahui bahwa tubuh tidak menyerap 100 persen vitamin C yang kita konsumsi. Sisa vitamin C yang tidak terserap akan dibuang melalui urin. Ini dikarenakan penyerapan vitamin C membutuhkan bantuan protein transporter yang jumlahnya terbatas dalam tubuh.

Selain faktor protein transporter, sedikit atau banyaknya vitamin C terserap juga dipengaruhi oleh cepat atau lambatnya vitamin C itu diserap. Vitamin C yang masuk ke dalam tubuh akan diserap dari usus ke dalam plasma darah. Selanjutnya vitamin C harus ’mengantri’ dengan nutrisi lainnya untuk distribusikan ke seluruh sel-sel tubuh dan diproses lebih lanjut menjadi metabolit vitamin C.

Nah, plasma darah sendiri punya batas waktu untuk menampung vitamin C, yaitu selama 4 jam saja. Artinya jika sejumlah vitamin C tidak sempat terserap, maka ia akan terbuang lewat urin. Pertanyaan selanjutnya, apa saja yang memengaruhi lambat atau cepatnya penyerapan vitamin C? Ini dia faktornya.

1. Makanan/minuman lain yang dikonsumsi berdekatan

Saat masuk ke dalam mulut, zat gizi dari bermacam makanan akan saling ‘berkomunikasi’. Masing-masing zat gizi punya peran sebagai inhibitor (penghambat), enhancer (peningkat), atau keduanya, bagi zat gizi lain yang sama-sama masuk perut.

Zat yang berperan sebagai inhibitor akan menghalangi dan menghambat penyerapan zat gizi yang satunya. Sebaliknya, jika ia enhancer, ia akan meningkatkan penyerapan zat gizi lainnya di dalam tubuh.

Salah satu contoh inhibitor vitamin C adalah asupan alkohol dan kafein (kopi, teh, cokelat, dan sebagainya). Sementara itu, makanan seperti  brokoli, bawang merah, kale, paprika, dan bayam justru dapat meningkatkan penyerapan vitamin C.

2. Mengonsumsi berbarengan dengan obat tertentu

Jenis obat seperti aspirin (penghilang rasa nyeri), barbiturat (penenang), dan hydantoin (obat antikejang) dapat memperlambat penyerapan vitamin C. Meskipun begitu, bukan berarti kamu tidak boleh mengonsumsi vitamin C ketika sedang mengonsumsi obat-obatan ini. Beri jarak selama 2 jam antara obat dan vitamin C.

3. Kondisi perut yang masih kosong

Mengonsumsi vitamin C saat perut kosong akan lebih mudah diserap ketimbang setelah makan. Hal ini dikarenakan protein transporter di dalam tubuh lebih fokus menyerap satu zat gizi saja tanpa ada ‘pesaing’ dari zat gizi lain. Dan, waktu penyerapan vitamin C yang terbaik adalah pagi hari sebelum sarapan.

Jika kamu ingin mencobanya dengan suplemen, perhatikan tingkat keasamannya. Sebab vitamin C umumnya bersifat asam dan tidak bersahabat terhadap lambung. Vitamin C yang aman bagi lambung adalah yang tingkat keasamannya netral (mendekati air, seperti Holisticare Ester C.

4. Bentuk suplemen vitamin C

Jenis dan bentuk kimia vitamin C itu bermacam-macam. Umumnya suplemen vitamin C biasa tergolong jenis asam askorbat dan tidak mengandung metabolit. Jenis vitamin C ini membutuhkan proses lebih panjang dari diserap sampai menghasilkan metabolit sehingga seringkali vitamin C banyak yang terbuang.

Berbeda dengan Holisticare Ester C, vitamin C dari jenis Ester-C ini telah dilengkapi metabolit dehidroaskorbat dan kalsium threonat sehingga tidak perlu lagi mengantre untuk diubah menjadi metabolit. Vitamin C jenis Ester-C lebih mudah diserap oleh leukosit (sel darah putih) yang merupakan benteng pertahanan tubuh sehingga tubuh memperoleh manfaat lebih besar ketimbang mengonsumsi vitamin C biasa.

Jadi, kamu sudah tahu kan faktor apa saja yang membuat vitamin C lebih cepat atau lebih lambat diserap? Dengan mengetahuinya, kamu sudah selangkah lebih mengerti kenapa harus kritis memilih vitamin C.