Holisticare Logo
Back to Article

Penyakit

Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS

Tanggal 1 Desember diperingati warga dunia sebagai Hari AIDS Sedunia, yang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengedukasi masyarakat dunia, tidak hanya akan bahaya namun juga persepsi dan pengetahuan tentang penyakit ini. 

Masih banyak dari kita yang belum memahami apa perbedaan HIV dan AIDS, termasuk mitos dan fakta seputar penyakit ini.

Artikel ini dipersembahkan oleh Holisticare Ester C, suplemen Vitamin C jenis Ester C. Untuk penuhi kebutuhan Vitamin C tubuh secara cepat, konsumsilah Holisticare Ester C 1000. Sebab Holisticare Ester C adalah Vitamin C yang lebih tidak perih di lambung, dan 24 hours bioavailability (ketersediaan Vitamin C di dalam tubuh selama 24 jam).

Perbedaan HIV/AIDS

Pada dasarnya, HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan jenis virus yang dapat mengakibatkan seseorang terjangkit penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Dilansir dari emc.id, HIV secara spesifik menyerang dan merusak sel CD4 yang merupakan bagian penting sistem kekebalan tubuh seseorang dalam melawan infeksi.

Namun, seseorang yang positif HIV tidak lantas terjangkit AIDS. Pasalnya, seseorang baru dikatakan terjangkit AIDS ketika infeksi dari HIV dalam tubuhnya telah berkelanjutan hingga akhirnya merusak sistem kekebalan tubuhnya secara total. Dalam kata lain, AIDS merupakan tahap akhir dari akumulasi HIV yang berkepanjangan dalam tubuh seseorang.

Mitos dan Fakta

Salah satu elemen penting dalam peringatan Hari AIDS Sedunia ialah edukasi tentang mitos dan fakta seputar penyakit ini. Berikut adalah beberapa mitos dan fakta seputar HIV/AIDS.

Mitos: HIV/AIDS Merupakan Penyakit Orang dengan Pergaulan Bebas

Faktanya, HIV bisa menginfeksi segala usia dan kalangan, mulai dari bayi hingga lansia. Benar adanya bahwa perilaku seks bebas  dan penggunaan narkotika suntik (dengan berbagi jarum suntik) dapat meningkatkan risiko penularan infeksi HIV, seperti melalui air mani dan cairan vagina. Namun, banyak hal lain yang juga menjadi medium penularan infeksi HIV, seperti menyusui, penularan ibu ke bayi selama kehamilan, proses kelahiran, dan donor darah.

Mitos: Bergaul dengan ODHA dapat Menularkan Penyakit

Faktanya, berada di dalam ruangan yang sama hingga bersentuhan kulit dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) terbukti secara ilmiah tidak menularkan infeksi virus. 

Dilansir dari hellosehat.com, berikut adalah perilaku yang terbukti tidak dapat menularkan infeksi virus:

  • Menyentuh barang-barang yang telah disentuh oleh ODHA
  • Meminum dari gelas yang telah digunakan oleh ODHA
  • Memeluk, mencium, atau berjabat tangan dengan ODHA
  • Berbagi peralatan makan dengan ODHA

Bahkan, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menilai air liur memiliki sangat sedikit antibodi HIV sehingga risiko infeksi tergolong sangat rendah. Selain air liur, keringat dan air mata ODHA juga terbukti tidak menularkan infeksi virus.

Mitos: ODHA Terlihat dari Kondisi Fisiknya

Faktanya, ODHA bisa saja terlihat bugar selayaknya orang yang sehat. Namun, beberapa gejala infeksi HIV memang dapat terlihat seperti salah satunya yaitu ruam merah pada kulit, yang muncul pada 90% ODHA di beberapa bulan pertama.

Mitos: Nyamuk Bisa Menyebarkan HIV

Faktanya, meskipun darah dapat menjadi medium penularan infeksi HIV, namun nyamuk tidak terbukti secara ilmiah dapat menularkan infeksi HIV. Dilansir dari Kompas.com, National Cancer Institute telah melakukan penelitian di daerah dengan banyak nyamuk, dan hasilnya mengatakan bahwa tidak ada kasus penularan HIV di sana.

Mitos: HIV Merupakan Vonis Mati

Faktanya, ODHA dapat terus melanjutkan hidupnya dengan melakukan pengobatan dan terapi secara berkala yang sesuai. HIV/AIDS memang belum ada obat penawarnya, namun ada obat antiretroviral (ARV) yang dapat membantu ODHA menjalani kehidupan yang lebih normal dan lama. Pasalnya, ARV terbukti menghambat infeksi virus HIV dalam tubuh.

Selain itu, dilansir dari Kompas.com, sebuah studi dari Marianna Baum dan tim dalam jurnal American Medical Association mengatakan, ODHA yang diberi konsumsi multivitamin (vitamin B, C, dan E) yang diiringi dengan suplemen selenium memiliki risiko 50% lebih rendah untuk masuk ke tahap AIDS setelah dua tahun.

Vitamin C sendiri bisa didapatkan tubuh dari makanan dan minuman, serta suplemen. Jika dibutuhkan untuk mengonsumsi suplemen Vitamin C, Holisticare Ester C dapat menjadi pilihan yang tepat, karena lebih tidak perih di lambung.


Related Article


Website ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari lebih lanjut.
Testing
Holisticare - Facebook Holisticare - Instagram Holisticare - Twitter Holisticare - Youtube