Pertanyaan Saat Memilih Suplemen Puasa

Menyiapkan suplemen puasa, tentu hal yang banyak dilakukan menjelang bulan Ramadan. Biasanya suplemen Vitamin C yang akan dipilih orang untuk menemani ibadah puasa. Tapi pertanyaan apa saja yang sebaiknya kita tanyakan saat memilih suplemen Vitamin C?

Kenapa Vitamin C yang banyak dipilih oleh orang sebagai suplemen puasa? Karena tubuh tidak dapat memproduksi Vitamin C sendiri. Padahal tubuh memerlukannya setiap hari. Lalu vitamin ini bisa bantu menjaga kekebalan tubuh selama menjalani puasa, agar kita tidak mudah sakit.

Pilihlah suplemen Vitamin C berjenis Ester C, seperti Holisticare Ester C. Sebab Holisticare Ester C memiliki tingkat keasaman mendekati netral, sehingga lebih tidak perih di lambung dan lebih aman dikonsumsi sebelum dan sesudah makan. Kandungan Holisticare Ester C juga lebih mudah diserap oleh tubuh kita. 

Semua orang pasti ingin memilih suplemen Vitamin C yang benar-benar tepat untuk berpuasa. Sebab, tidak semua suplemen Vitamin C melindungi tubuh secara holistik (menyeluruh).

Kebanyakan suplemen Vitamin C mempunyai efek samping terhadap organ tubuh lain. Misalnya memicu peningkatan cairan asam lambung, rasa tidak nyaman, hingga rasa perih di lambung. Risiko itu sangat mungkin akan beresiko mengganggu puasa kita, Ini bukanlah cara yang holistik untuk sehat, Sahabat Holisticare.

5 Pertanyaan Saat Memilih Suplemen Puasa

Sebelum menentukan Vitamin C mana yang akan dipilih untuk bekal puasa, ada baiknya kita lebih kritis dalam memilih Vitamin C yang tepat. Lima pertanyaan kritis ini bisa jadi panduan dalam memilih suplemen Vitamin C yang terbaik:

1. Apakah suplemen Vitamin C ramah di lambung?

Salah satu keluhan akibat suplemen Vitamin C yang paling sering dialami saat puasa adalah lambung yang tidak nyaman, terlebih di minggu-minggu pertama. Sifat dasar suplemen Vitamin C yang asam kerap membuat lambung terasa penuh, mual, hingga perih.

Namun, tidak semua suplemen Vitamin C seperti itu. Suplemen Vitamin C jenis Ester C memiliki tingkat keasaman mendekati netral, sehingga tidak menyebabkan efek samping tersebut. Seperti Holisticare Ester C. Memiliki sifat yang tidak asam juga membuat Holisticare Ester C lebih aman diminum sebelum atau sesudah makan.

2. Sudah bersertifikasi halalkah?

Puasa adalah ibadah. Memastikan apa yang kita makan dan minum dalam kondisi halal juga akan memberikan nilai tambah dalam ibadah puasamu. Karena itu, akan lebih baik jika kita memastikan suplemen Vitamin C untuk puasa nanti telah bersertifikasi halal.

3. Apakah Vitamin C menyebabkan kencing berwarna kuning pekat?

Penyerapan suplemen Vitamin C dalam tubuh dapat dilihat dari kondisi air kencing atau urine. Vitamin C merupakan zat larut dalam air, sehingga jika ada yang tidak terserap tubuh akan terbuang lewat urine.

Jika ingin mengetahui banyak tidaknya Vitamin C yang terserap, kamu bisa mengeceknya lewat warna dan aroma urine setelah mengkonsumsinya. Warna kuning pekat dengan aroma menyengat, bisa jadi pertanda kalau suplemen Vitamin C yang Anda minum banyak terbuang.

Cara ini bisa mengantisipasi konsumsi Vitamin C yang mubazir. Namun sebelum mengecek urine, pastikan warna dan aroma urine Anda normal dulu. Karena bisa jadi, warna kuning pekat dan aroma menyengat disebabkan asupan makanan atau minuman lain.

4. Berapa lama Vitamin C bertahan di dalam tubuh?

Jika ada sebuah suplemen Vitamin C bertahan di tubuh 12 jam, dan suplemen Vitamin C lainnya mampu bertahan di tubuh 24 jam, maka tentu suplemen yang dapat bertahan 24 jam akan lebih memberikan efek Vitamin C lebih optimal. Apalagi di saat puasa nanti, tubuh akan membutuhkan daya tahan ekstra.

5. Idealkah dosisnya?

Kebanyakan orang menganggap tubuh akan memperoleh manfaat suplemen Vitamin C sebanyak dosis yang ia konsumsi. Jika Vitamin C yang dikonsumsi dosisnya 1.000 miligram, maka seluruhnya dianggap telah diserap oleh tubuh.

Sebenarnya secara ilmiah tidak demikian. Dalam Journal of Medical Science diungkapkan bahwa bioavailabilitas terbaik Vitamin C terjadi ketika seseorang mengonsumsi sekitar 200 miligram. Bioavailabilitas adalah penyerapan zat aktif (nutrisi) pada level darah untuk selanjutnya diserap oleh sel.

Semakin tinggi dosis Vitamin C dikonsumsi, bukan berarti persentase jumlah bioavaibilitasnya semakin tinggi. Ketika dosis dinaikkan 4 kali lipat dari dosis terbaik (dari 250 miligram menjadi 1.000 miligram), kenaikan bioavaibilitasnya justru tidak ikut mencapai 4 kali lipat.

Itu berarti sisa Vitamin C yang tidak terserap darah akan banyak terbuang lewat urine. Melihat bukti ilmiah tersebut, Anda disarankan memilih suplemen Vitamin C dengan dosis tepat yaitu sekitar 200 miligram.

Dengan lima pertanyaan ini, kita bisa mengetahui kriteria untuk memilih Vitamin C terbaik saat berpuasa. Selain menghindari efek negatif yang mungkin terjadi, kita juga bisa mengoptimalkan Vitamin C agar manfaatnya lebih panjang dan cepat. Yuk lebih kritis memilih Vitamin C!

  • Update terakhir: 10 Februari 2020
  • Update selanjutnya: 8 Februari 2021