Suplemen Dengan Penyerapan Vitamin C Terbaik

Banyak orang sehat mengabaikan kebutuhan Vitamin C harian. Namun saat mulai sakit, ia baru mencari Vitamin C dosis tinggi. Padahal, dosis Vitamin C tidak melambangkan kebutuhkan tubuh. Oleh karena itu kita perlu tahu suplemen mana dengan penyerapan Vitamin C terbaik?

Padahal saat mengkonsumsi Vitamin C dosis tinggi, tubuh tidak melakukan penyerapan Vitamin C secara sempurna. Jumlah atau dosis Vitamin C yang kita konsumsi, tidak melambangkan jumlah yang dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu kita perlu tahu Vitamin C dengan penyerapan terbaik dari yang ada.

Pandangan Keliru

Mungkin kebiasaan konsumsi Vitamin C dosis tinggi muncul dari anggapan bahwa makin tinggi dosis yang ditawarkan suplemen Vitamin C, maka makin efektif pula penyembuhannya. Sehingga jika kondisi tubuh drop, Vitamin C dapat menahannya. Benarkah demikian?

Dilihat dari sisi medis, cara tersebut adalah sebuah kekeliruan. Jumlah kebutuhan Vitamin C di saat kondisi seseorang sehat adalah sebanyak 75-90 miligram. Sedangkan tubuh orang dewasa dalam kondisi sakit atau drop membutuhkan lebih dari jumlah itu.

Kuningnya Urine Usai Konsumsi Vitamin C

Namun memperbanyak konsumsi Vitamin C saat sakit, dan mengabaikan konsumsinya saat sehat adalah cara yang salah dan tidak holistik.

Perlu kita ketahui, besarnya dosis Vitamin C yang dikonsumsi tidak menjamin 100 persen akan diserap tubuh, justru dapat semakin memperberat kerja organ ginjal. Sebab sisa Vitamin C yang tidak terserap akan terbuang melalui urine.

Kondisi itulah yang menjadi sebab mengapa urine berwarna kuning pekat setelah mengkonsumsi suplemen Vitamin C. Oleh karena itu, ukuran yang menjadi prioritas bukanlah pada dosisnya, melainkan bagaimana penyerapannya. Beberapa suplemen Vitamin C mungkin menawarkan dosis tinggi, namun apakah terserap maksimal? Belum tentu.

Vitamin C Dengan Penyerapan Terbaik

Kata kunci yang perlu diingat adalah ”penyerapan.” Ya, setiap jenis vitamin C memang memiliki cara dan tingkat penyerapan berbeda-beda.

Umumnya suplemen Vitamin C yang beredar di pasaran tergolong dalam bentuk asam askorbat dengan tingkat keasaman tinggi. Sebagian lain yang populer berjenis Ester C, dengan tingkat keasaman mendekati netral. Kedua jenis Vitamin C ini ternyata memiliki perbedaan daya serap yang signifikan.

Dari penelitian yang berjudul ”Comparative Studies of Ester-C versus L-ascorbic Acid” oleh tiga orang ilmuwan asal Amerika Serikat tahun 1990, sebanyak 3000 miligram Vitamin C jenis asam askorbat dan 4000 miligram Vitamin C jenis Ester C diuji penyerapannya.

Hasilnya membuktikan bahwa sebanyak 2700 miligram dari 3000 miligram asam askorbat secara mengejutkan terbuang dari tubuh lewat urine. Artinya, 90 persen dari jumlah Vitamin C jenis asam askorbat yang dikonsumsi justru akan terbuang.

Sementara pada Vitamin C jenis Ester C, dari 4000 miligram yang masuk, jumlah yang terbuang hanya sebesar 500 miligram atau 12,5 persennya saja.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Vitamin C jenis Ester C jauh lebih maksimal daya serapnya, dibanding Vitamin C populer berjenis asam askorbat. Oleh karena itu pilihlah Holisticare Ester C, sebab tingkat keasamannya mendekati netral sehingga lebih nyaman di lambung.

Ini sekaligus memberi pemahaman pada kita bahwa dosis besar tidak menjadi jaminan sebuah suplemen Vitamin C dapat dimanfaatkan tubuh. Karenanya, pilihlah Vitamin C dengan dosis yang tepat dan penyerapan maksimal.

Related Articles