Diet & Nutrisi
Vitamin C dari Buah dan Sayur Bisa Berkurang atau Bahkan Habis, Benarkah?
[vc_row][vc_column][vc_column_text]
Sahabat Holisticare, buah dan sayur merupakan sumber vitamin C alami yang diandalkan banyak orang. Tapi tahukah kamu? Vitamin C dari buah dan sayur yang kamu konsumsi, jumlahnya tidak semaksimal yang kamu kira. Mungkin sebuah jeruk yang kamu beli hanya tersisa 10 mg vitamin C. Padahal menurut para ahli gizi, jeruk mengandung 70-90 mg vitamin C. Lalu kemana sisanya?
Ternyata vitamin C itu menyusut akibat beberapa proses dari awal dipetik hingga ke tangan konsumen. Proses itu meliputi penyimpanan, pendistribusian, atau saat dipajang di toko. Lalu bagaimana proses itu membuat vitamin C bisa berkurang? Ini dia!
Penyimpanan Awal
Vitamin C terdapat pada berbagai buah dan sayuran, namun kadar vitamin C dapat berubah ketika terpapar dengan cahaya, udara dan pemanasan. Saat buah atau sayur dipetik, biasanya petani mengumpulkannya di bawah terik matahari. Temperatur yang tinggi karena cahaya matahari mempermudah pecahnya rantai vitamin C sehingga menurunkan kandungannya. Penyusutan juga bisa terjadi karena vitamin C mudah teroksidasi dengan cahaya matahari.
Selanjutnya buah atau sayur disimpan di gudang. Butuh suhu ideal agar metabolisme dan laju udaranya tetap berjalan normal. Jika tidak, kandungan vitamin C-nya akan menurun bahkan habis. Kadar vitamin C dalam makanan langsung akan berkurang begitu buah dan sayuran dipetik, walaupun hal ini dapat diperlambat dan diminimalkan dengan pendinginan pada bentuk utuh. Buah dan sayur yang disimpan dalam suhu ruangan selama 6 hari akan menurunkan kadar vitamin C nya sebanyak 80%.
Distribusi
Sebagian besar buah yang dijual di perkotaan berasal dari perkebunan desa yang lokasinya cukup jauh. Perjalanan akan memakan waktu berhari-hari untuk sampai ke kota tujuan. Saat perjalanan itu, buah atau sayur biasanya dikemas dalam bungkus atau peti yang hampir kedap udara, karena vitamin C mudah teroksidasi dalam udara. Mungkin dapat dikatakan penyimpanannya harus kedap udara supaya kadar vitamin C tidak menurun.
Ilustrasi tadi berlaku untuk buah lokal. Nah bagaimana untuk kandungan vitamin C pada buah impor yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sampai ke Indonesia?
Pemajangan di Toko
Entah di pasar tradisional atau pasar modern, buah dan sayur akan sering terpapar sinar, baik sinar dari matahari ataupun sinar dari lampu toko. Kondisi ini pun cukup membuat kandungan vitamin C berkurang akibat sifatnya yang fotosensitif.
Penyimpanan di Rumah
Di rumah, orang biasanya menyimpan buah dan sayur di kulkas. Dan ternyata, vitamin C pun jumlahnya bisa menyusut saat suhu dingin. Kemudian buah atau sayur tertentu ada yang dimasak sebelum disajikan. Proses pemanasan tentu akan mengurangi kadar vitamin C-nya. Jadi ketika buah sudah di tanganmu, apakah jumlah vitamin C nya bisa maksimal? Tentunya tidak.
Tabel: Pengaruh penyimpanan dan persiapan makanan tertentu terhadap kandungan vitamin C-nya

Lalu bagaimana solusinya? Tentu hampir tidak mungkin jika kamu memilih mengonsumsi buah yang langsung dipetik dari pohon. Solusi terbaiknya adalah, lengkapi kebutuhan vitamin C kamu dengan suplemen vitamin C. Jangan lupa untuk kritis memilih vitamin C ya! Karena tidak semua vitamin C terserap maksimal di tubuhmu.
Ditinjau oleh: dr. Eveline Margo
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]





