Diet & Nutrisi
Apakah Vitamin C yang Anda Konsumsi Sudah 100% Diserap Tubuh?
Di zaman sekarang, di mana aktivitas harian sudah padat, kebutuhan makan dijalani dengan tergesa-gesa, yang penting asal masuk perut. Seringkali kita kurang mempertimbangkan komposisi vitamin yang ada dalam makanan tersebut. Namun untuk mencukupinya, kita cenderung menambah asupan vitamin dengan mengonsumsi suplemen.
Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Karena untuk memastikan kecukupan asupan vitamin, terutama pada kondisi pola makan dengan asupan gizi yang tidak seimbang, kita bisa menambah kekurangannya lewat suplemen.
Salah satu vitamin yang penting untuk menyokong aktivitas harian kita adalah Vitamin C. Seperti kita ketahui manfaat vitamin C ini sangatlah banyak, antara lain:
- Meningkatkan sistem imun tubuh
- Membantu memelihara kesehatan jantung
- Memperkuat daya ingat
- Sebagai antioksidan, dan masih banyak lagi.
Vitamin C ini sendiri adalah vitamin yang larut dalam air, tidak dapat diproduksi di dalam tubuh. Saat tubuh kelebihan asupan vitamin C, maka sisanya akan dibuang oleh tubuh melalui urin. Sehingga tidak ada yang namanya cadangan vitamin C di dalam tubuh. Karenanya, kebutuhan vitamin C ini selalu dibutuhkan oleh tubuh setiap harinya.
Kebutuhan vitamin C inilah yang berusaha kita penuhi dengan berbagai cara, seperti mengonsumsi buah-buahan segar ataupun dalam bentuk jus, mengonsumsi suplemen, dan melalui suntikan.
Saat ini banyak pemahanan yang kurang tepat di kalangan masyarakat awam yang memiliki keyakinan bahwa semakin banyak konsumsi buah, sayur dan suplemen vitamin C dosis tinggi, maka akan semakin banyak jumlah vitamin C di dalam tubuh, dan itu semakin baik. Sehingga dengan pemahaman seperti ini, banyak orang yang secara rutin meminum suplemen vitamin C dengan dosis hingga 1.000 mg atau lebih setiap hari. Padahal perlu diketahui juga bahwa asupan vitamin C yang terlalu tinggi secara rutin, dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal karena adanya kandungan oksalat dalam vitamin C.
Ada fakta menarik yang perlu kita ketahui mengenai proses penyerapan vitamin C oleh tubuh, yaitu tidak semua vitamin C yang kita konsumsi akan diserap oleh tubuh secara optimal. Proses penyerapan vitamin C umumnya melalui 3 tahapan, yaitu:
- Penyerapan oleh usus halus.
- Transportasi oleh jaringan ikat.
- Reabsorbsi (penyerapan kembali) oleh ginjal.
Penyerapan Vitamin C ini dapat dihambat, salah satunya oleh kafein, yang biasa kita jumpai pada kopi, teh, coklat, minuman bersoda dan minuman berenergi. Jadi sebaiknya mengonsumsi Vitamin C dengan air putih saja, tidak diikuti oleh minuman berkafein dalam waktu bersamaan. Sedangkan untuk meningkatkan penyerapannya bisa dibantu dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayuran secara bersamaan.
Menurut jurnal yang diterbitkan Linus Pauling Institute, vitamin C dengan dosis sampai dengan 200 mg/hari, akan diserap 100% oleh tubuh. Sedangkan jika kita mengonsumsi vitamin C dengan dosis 1.000 mg atau lebih, maka hanya kurang dari 50% yang akan diserap tubuh. Untuk asupan vitamin C antara 200 hingga 400 mg/hari, penyerapannya tetap sampai batas kadar vitamin C dalam plasma yaitu sekitar 60 -80 u mol/l. Sehingga bisa disimpulkan bahwa asupan vitamin C lebih dari 200 mg, tidak akan meningkatkan kadar penyerapannya hingga di dalam plasma darah, tetapi tetap sama, dan kelebihannya akan dibuang melalui urin.
Setelah memahami manfaat vitamin C dan berapa jumlah dosis yang disarankan per harinya, alangkah baiknya jika kita juga mengenal bagaimana cara penyerapan vitamin C di dalam tubuh, agar kita lebih bijak dalam mengonsumsi suplemen vitamin C.
[/vc_column_text][vc_separator][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_empty_space][vc_column_text]
Ditulis oleh:Diana Lestari, (Spesialis hemodialisa)[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][/vc_column][/vc_row]








