Alergi Matahari: Kenapa Bisa Terjadi dan Cara Mengatasinya
Holisticare Logo
Alergi Matahari: Kenapa Bisa Terjadi dan Cara Mengatasinya
Back to Article

Penyakit

Alergi Matahari: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya

Alergi matahari atau sun rash adalah reaksi autoimun terhadap sinar matahari yang menyebabkan rasa gatal dan ruam pada kulit. Jenis alergi matahari yang paling umum ialah Polymorphous Light Eruption (PMLE). Rasa gatal dan ruam biasanya terjadi di leher, tangan, dan permukaan kulit yang tidak dilindungi dengan pakaian. Reaksi alergi pada kulit karena paparan sinar matahari umumnya muncul 30 menit hingga beberapa jam setelah paparan. 

Jenis-jenis alergi matahari

Ada beberapa jenis alergi matahari, dan setiap jenis memiliki gejala yang berbeda pula. 

Polymorphous Light Eruption (PMLE)

PMLE lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. PMLE adalah kondisi di mana adanya benjolan kecil pada permukaan kulit, bercak hingga gelembung mirip cacar. Biasanya berada di leher, dada, dan lengan. Kondisi ini dapat berkembang dari 20 menit hingga berjam-jam setelah kulit terpapar sinar matahari, dan dapat bertahan hingga dua minggu. 

PMLE juga sering terjadi pada remaja dan mereka yang berusia 20 hingga 40 tahun, dan mereka yang memiliki kulit cerah dan sensitif. Selain tanda pada permukaan kulit, PMLE juga ditandai dengan sakit kepala, mual, dan menggigil. 

Actinic prurigo 

Gejala actinic prurigo mirip dengan PMLE, perbedaannya adalah actinic prurigo lebih sering terjadi di wajah, terutama pada area bibir. Kulit akan muncul papula atau bintik yang keras, mirip seperti jerawat kistik. 

Actinic prurigo bisa disebabkan oleh genetik, dan mereka dengan kulit yang lebih gelap seperti pada ras Amerika Latin dan Indian Amerika. 

Photoallergic reaction

Jenis ini disebabkan oleh alergi akibat bahan kimia yang terdapat di skincare, kosmetik, dan parfum yang diaplikasikan secara langsung pada permukaan kulit, di mana sinar matahari akan mengubah bahan kimia tersebut sehingga sistem imun tubuh menganggapnya sebagai musuh (invader). Gejala yang muncul biasanya lebih lama yaitu satu hingga dua hari setelah paparan sinar matahari. 

Solar urticaria

Jika kamu pernah bertemu dengan orang yang pingsan akibat paparan sinar matahari, mungkin dia sedang mengalami gejala solar urticaria. Solar urticaria adalah alergi matahari yang ditandai dengan gatal-gatal hingga menimbulkan kemerahan, pengelupasan, hingga kulit berdarah. Reaksi bisa menyebar pada bagian kulit yang tidak terkena paparan sinar matahari, dan hanya membutuhkan hitungan menit untuk reaksi terjadi. 

Selain reaksi kulit, mereka dengan solar urticaria juga bisa merasakan sakit kepala, mual, sulit bernapas hingga pingsan. Meskipun jenis alergi ini cukup jarang, tapi ini bisa mengancam nyawa penderitanya. Solar urticaria bisa memicu syok anafilaksis, syok yang disebabkan oleh alergi dan membutuhkan penanganan medis. 

Para ahli menduga solar urticaria disebabkan oleh gangguan sistem imun. Sistem imun keliru dan menganggap sel yang terpapar sinar matahari dalam tubuh sebagai sel asing yang berbahaya, sehingga menimbulkan reaksi histamin (reaksi alergi yang menimbulkan gejala kulit kemerahan, gatal-gatal, dan ruam).

Apa yang akan terjadi jika tubuh jarang terpapar sinar matahari?

Jika kamu jarang terkena sinar matahari, kamu bisa mengalami flu (influenza). Influenza adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan menyerang saluran pernapasan atas (hidung). 

Menurut kajian ilmiah yang diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research, Amerika Serikat, mereka yang sering berjemur dan mendapatkan cukup sinar matahari lebih jarang terkena influenza. 

Selain flu, kamu juga akan mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin D. Seperti yang kita ketahui, sinar matahari adalah sumber vitamin D terbaik dan termudah yang bisa kita dapatkan. Vitamin D adalah vitamin esensial untuk mendukung fungsi sistem imun dan juga dapat mengurangi resiko penyakit autoimun dan infeksi. 

Jika kamu mengalami kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan vitamin D harian dari sinar matahari, kamu bisa mendapatkannya melalui makanan kaya vitamin D seperti ikan laut (salmon, sarden, tuna), minyak ikan, kuning telur, susu (bisa juga susu kedelai), hingga sereal. 

Selain dari makanan, kamu juga bisa mengonsumsi suplementasi vitamin D seperti Holisticare D3 1000. Holisticare D3 1000 mengandung vitamin D3 atau cholecalciferol yang dapat memenuhi kebutuhan vitamin D secara cepat, terutama bagi penderita penyakit infeksi dan penyakit autoimun. 

Cara mencegah alergi matahari

Untuk menghindari gejala yang ditimbulkan akibat paparan sinar matahari, 5 cara di bawah ini bisa kamu lakukan. 

  1. Pakai sunscreen
  2. Gunakan kacamata anti radiasi, pakaian yang tertutup, dan payung saat keluar
  3. Hindari keluar pada jam 10 pagi hingga 4 sore
  4. Perhatikan kandungan skincare, kosmetik, dan parfum yang dapat memicu alergi 
  5. Konsultasikan dengan dokter 

 

Ditinjau oleh: dr. Putri Wulandari 


Related Article


Website ini menggunakan cookie untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari lebih lanjut.
Testing
Holisticare - Facebook Holisticare - Instagram Holisticare - Twitter Holisticare - Youtube