Gaya Hidup Sehat
Ini Kategori Kualitas Udara yang Sehat Dan Tercemar
Bagi masyarakat perkotaan, udara yang sehat kini menjadi barang ‘langka’ yang bisa dinikmati. Kepadatan dan aktivitas masyarakat yang tinggi menyebabkan kualitas udara menurun karena pencemaran. Bagaimana mengukur kualitasnya?
Indonesia sendiri punya perwakilan kota yang udaranya termasuk dalam 5 besar paling tercemar, yaitu Jakarta. Sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, hingga menyebar ke Malaysia dan Singapura pun pernah mengalami pencemaran udara akibat kebakaran hutan. Ini adalah masalah serius yang menyangkut kesehatan orang banyak.
Untuk bantu memperkuat daya tahan tubuh, konsumsilah suplemen Vitamin C berjenis Ester C. Seperti Holisticare Ester C. Sebab Holisticare Ester C memiliki tingkat keasaman mendekati netral, sehingga lebih tidak perih di lambung dan mudah diserap oleh tubuh.
Udara yang tercemar punya dampak buruk pada kesehatan masyarakat. Menurut para peneliti dari The Paris Cardiovascular Research Center, peningkatan kadar polutan udara dapat mengganggu kesehatan jantung. Efek buruk lainnya dapat terjadi pada sistem pernapasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), asma, hingga kanker paru-paru.
Yang selanjutnya menjadi pertanyaan, seperti apakah udara sehat dan udara yang tercemar? Bagaimana cara mengukur kualitas udara?
Cara Mengukur Kualitas Udara
Untuk mengukur kualitas udara, beberapa negara memiliki standar dengan sebutan yang berbeda dalam menentukan tingkat polutan udara. Beberapa standar itu adalah Air Quality Health Index, Air Pollution Index dan Pollutant Standard Index. Indonesia menggunakan Pollutant Standard Index (PSI) untuk mengukur kualitas udara di setiap daerah.
Standar ini dikemukakan oleh National Environment Agency dari Singapura, untuk mengukur kualitas udara berdasarkan beberapa jenis zat polutan tertentu yang disepakati.
Ada enam jenis polutan yang masuk dalam perhitungan PSI yaitu sulfur dioksida, particulate matter, fine particulate matter, nitrogen dioksida, karbon monoksida, dan ozon.
PSI memiliki skala antara 0-500 yang menunjukkan tingkat kandungan keenam jenis polutan, juga menggolongkan apakah tingkat polusi udara suatu daerah tergolong baik, tidak sehat, berbahaya, atau buruk.
Berikut ini adalah penggolongan PSI oleh National Environment Agency (NEA) Singapura, berdasarkan level dan efek yang dapat ditimbulkannya:
1. Kategori Sehat
- PSI: 0 – 50
- Efek kesehatan: Tidak ada
2. Kategori Moderat
- PSI: 51 – 100
- Efek kesehatan: Sedikit dari populasi keseluruhan yang mengalami gangguan kesehatan.
3. Kategori Tidak Sehat Bagi Golongan Sensitif
- PSI: 101 – 150
- Efek kesehatan: Beberapa kelompok yang tergolong sensitif mungkin mengalami gangguan kesehatan. Namun secara umum tidak berpengaruh.
4. Kategori Tidak Sehat
- PSI: 151 – 200
- Efek kesehatan: Setiap orang mulai mengalami gangguan kesehatan, kelompok tergolong yang sensitif dapat mengalami masalah kesehatan yang lebih serius. Karenanya, tetaplah berada di dalam ruangan.
5. Kategori Sangat Tidak Sehat
- PSI: 201 – 300
- Efek kesehatan: Peringatan kesehatan kondisi darurat. Seluruh populasi sangat mungkin terkena dampaknya.
6. Kategori Berbahaya
- PSI: 301 +
- Efek kesehatan: Peringatan kesehatan: semua orang akan mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius.
Kondisi udara pada beberapa daerah di Indonesia pernah masuk kategori berbahaya. Pada kasus kebakaran hutan yang pernah terjadi, indeks PSI di daerah Riau sempat menyentuh angka lebih dari 300. Tentunya gangguan kesehatan, terutama fungsi pernafasan, akan terjadi hampir pada tiap individu di daerah tersebut.
Agar risiko gangguan pernapasan dapat diminimalisasi saat udara tercemar, upayakan untuk tidak keluar ruangan jika tidak terlalu dibutuhkan. Gunakan masker dengan daya saring yang tinggi, akan lebih baik jika masker memiliki penyaring khusus berupa serabut. Selain itu, konsumsi Vitamin C juga dapat mencegah penurunan fungsi pernapasan akibat polusi.








