Jika membayangkan rasa makanan bervitamin C, maka kebanyakan orang biasa mengidentikkannya dengan rasa asam. Bahkan di antara kamu mungkin langsung mengernyitkan dahi karena membayangkan rasa makanan itu bereaksi di lidahmu. Ya, vitamin C dipandang ‘akrab’ dengan asam karena memang rata-rata makanan yang dikenal bervitamin C memiliki rasa asam, misalnya jeruk, lemon, atau kiwi (meskipun sebagian makanan bervitamin C lain tidak terasa asam). Tapi apakah ‘keakraban’ vitamin C dengan asam hanya sebatas kebetulan itu saja? Ternyata tidak.

Vitamin C pada dasarnya memang bersifat asam secara kimiawi. Dengan nama kimia asam askorbat, vitamin C umumnya memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 2 hingga 4. Perlu kamu ketahui, pH berkisar antara 1 hingga 15. Skala pH 7 adalah angka tengah yang menunjukkan bahwa suatu zat bersifat netral. Semakin rendah nilai pH, semakin asam pula suatu zat. Jadi, hubungan antara vitamin C dan keasaman bukan sekadar keidentikan dengan rasanya, melainkan juga sifat kimiawinya.

Sifat asam pada vitamin C seringkali menjadi penghalang orang untuk mengonsumsinya dalam bentuk suplemen secara rutin. Ini dikarenakan vitamin C berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap tubuh. Pada gigi misalnya, zat asam yang menempel akan ‘menggerus’ gigi secara perlahan sehingga ketika dikonsumsi rutin dalam jangka panjang bisa menimbulkan rongga. Terkait risiko ini, sebaiknya kamu memilih suplemen vitamin C tablet ketimbang vitamin C berbentuk minuman. Vitamin C tablet akan lebih meminimalisasi kontak dengan gigi.

Selain itu, dampak asam vitamin C yang paling dikhawatirkan banyak orang terletak pada lambung. Masalah umum yang terjadi pada lambung setelah mengonsumsi vitamin C adalah rasa nyeri atau perih, mual, atau tidak nyaman. Rasa nyeri atau perih ini disebabkan karena zat asam berlebih bersifat korosif sehingga mengiritasi dinding lambung. (baca: Mengapa Zat Asam Membuat Lambung Perih?)

Terkadang pada kondisi tertentu, zat asam berlebih pada vitamin C juga berpotensi menyebabkan gejala GERD (gastroesophageal reflux disease). GERD adalah gangguan pencernaan dimana otot yang terdapat di antara lambung dan kerongkongan (esophageal spinchter) lemah sehingga tidak dapat mendorong makanan ke usus dan menyebabkan isi perut dan asam kembali ke kerongkongan. Gangguan ini membuat penderitanya merasa panas seperti terbakar di dada (heartburn), lambung tidak nyaman, mulut pahit, banyak ludah, nyeri dada, bahkan hingga asma. Salah satu penyebabnya adalah karena asupan makanan asam yang meningkatkan asam lambung. Dan, salah satu asupan itu justru dimiliki oleh beberapa sumber vitamin C.

 Lalu, bagaimana agar tetap bisa memperoleh manfaat vitamin C secara aman dan minim risiko keasaman? Solusi simpelnya adalah dengan mengonsumsi asupan vitamin C yang tidak asam. Ya, beberapa buah atau sayur tertentu memiliki tingkat keasaman yang lebih ramah. Namun mengecek keasaman suatu buah atau sayur tidak sesimpel mengecap rasanya. Ada buah dan sayur tertentu yang rasanya tidak asam namun tingkat keasamannya tinggi, contohnya anggur, delima, apel, mangga, coklat, jamur, mentega, keju (pH 2-4).

 Sumber vitamin C yang lebih jelas keasamannya justru ada pada suplemen. Meskipun sebagian besar suplemen vitamin C bersifat asam, ada beberapa suplemen lain yang justru tidak asam. Salah satu vitamin C itu ada pada Holisticare EsterC. Suplemen ini tergolong jenis vitamin C yang tidak asam. Dengan pH mendekati netral (pH 6,5), Holisticare EsterC lebih aman dari risiko-risiko yang disebutkan tadi. Kamu bisa mengonsumsinya tanpa khawatir organ lain terganggu. Bahkan, Holisticare EsterC bisa dikonsumsi dalam keadaan perut kosong.